Make your own free website on Tripod.com

Home
About Us
Company Profile
Kinerja
Produk & Layanan
Peraturan
Info Treasury
Risk Management
Panduan Menganalisa Laporan Keuangan
Panduan Menilai Alat Berat Bekas
Panduan Menghitung Cicilan
Panduan Mengkonversi Bunga Flat >< Efektif
Kompetitor
Artikel Leasing
News
Contact Us

 

 

Risk Management

Kecukupan dalam kontrol internal dan efektivitas sistem manajemen resiko memungkinkan manajemen untuk mendapatkan informasi yang terkini dan akurat, dalam hal adanya pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap prosedur dan hal ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan tindakan untuk mengurangi pengaruh resiko.

Dalam hubungannya dengan aset perusahaan leasing yang mengandung resiko, keberhasilan dari mekanisme proses manajemen resiko tercermin dalam kualitas dari portofolio kredit yang berada dalam batas parameter resiko yang telah ditetapkan. Setidaknya terdapat 3 (tiga) macam resiko utama bagi perusahaan leasing, meliputi :

  1. Resiko pendanaan dan likuiditas
  2. Resiko kredit
  3. Resiko operasional

1. Resiko Pendanaan dan Likuiditas
Pertumbuhan Perusahaan sangat tergantung tersedianya pendanaan yang berasal dari fasilitas perbankan serta sumber dana lainnya untuk transaksi pembiayaan baru. Dalam pengelolaan pendanaan, perusahaan leasing harus melakukan "lindung nilai" terhadap portofolio sumber dana yang memiliki resiko fluktuasi bunga dan nilai tukar mata uang. Untuk memperkecil resiko likuiditas atas perbedaan jatuh tempo investasi dan sumber dananya, sebagian pendanaan dilakukan dengan melakukan penjualan tagihan piutang pembiayaan konsumen atau melalui channeling. Sedangkan tagihan pembiayaan yang tidak dijual, sebagian besar pendanaannya melalui ekuitas Perusahaan.

2. Resiko Kredit
Tujuan dari penetapan kebijakan kredit adalah untuk meminimalkan resiko kredit atas fasilitas yang diberikan kepada konsumen, antara lain dengan melakukan diversifikasi pada portofolio investasi, dan fokus kepada pembiayaan peralatan yang mudah dijual kembali di pasar sekunder. Kebijakan tersebut juga menetapkan jumlah maksimum pemberian kredit kepada nasabah beserta afiliasinya, menetapkan jumlah otorisasi persetujuan kredit dari pimpinan cabang dan anggota komite kredit, menetapkan rasio pembiayaan terhadap nilai aset yang dibiayai, dan menutup asuransi atas peralatan yang dibiayai melalui perusahaan-perusahaan asuransi yang mempunyai reputasi baik. Diversifikasi portofolio pembiayaan dapat dikategorikan ke dalam beberapa aspek resiko, meliputi diversifikasi geografis, jenis dan merek peralatan, jenis produk pembiayaan seperti pembiayaan konsumen, sewa guna usaha, dan lain-lain.

a) Diversifikasi Geografis
Portofolio harus tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Penyebaran portofolio terbesar ada di pulau Sumatera, kemudian Kalimantan, disusul pulaupulau Jawa & Bali, dan Sulawesi. Diversifikasi ini memungkinkan perushaan leasing untuk mengelola penyebaran resiko ke beberapa daerah atas kemungkinan adanya bencana alam seperti banjir, gempa bumi atau kegagalan panen, dll.

b) Diversifikasi Jenis dan Merek
Dalam hal nilai pembiayaan kendaraan, hampir seluruh pembiayaan konsumen untuk kendaraan adalah merek Jepang, yang memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan bagus di pasar sekunder. Untuk portofolio sewa guna usaha, khususnya di bidang pembiayaan peralatan berat, tersebar di antara tiga merek terkenal Komatsu, Caterpillar dan Hitachi. Sebagian besar nasabah adalah pemakai merek Komatsu. Ketiga merek tersebut mempunyai nilai jual yang baik di pasar sekunder.

c) Diversifikasi Tipe
Sebagian besar kendaraan bermotor yang dibiayai merupakan kendaraan komersial (non sedan). Kendaraan komersial ini digunakan untuk memperoleh penghasilan dan pada umumnya dipergunakan untuk usaha.

d) Diversifikasi Industri
Pada Sewa Guna Usaha, portofolio sewa guna harus tersebar merata di 8 (delapan) sektor utama mulai dari sewa alat, pertambangan, bubur kertas dan kertas, kayu dan industri pengolahan kayu, transportasi air dan lainnya, kontraktor umum dan lain-lain.

e) Fokus sewa guna usaha atas peralatan yang umum digunakan dan memiliki resiko rendah.
Sebagian besar dari piutang sewa guna usaha merupakan pembiayaan asset berupa alat berat yang dapat digunakan untuk kegiatan di berbagai industri termasuk alat berat excavator, bulldozer, motor grader dan lain-lain, serta alat transportasi sungai dan laut seperti tug boat dan tongkang.

f) Hindari transaksi kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa .
Perusahaan leasing sebaiknya tidak mempunyai portfolio yang besar dengan perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa, kecuali pembiayaan kepada karyawan.

3. Resiko Operasional
Untuk mengurangi resiko operasional yang timbul dari proses aktivitas internal, kesalahan manusia serta kesalahan sistem, perusahaan leasing harus mengaplikasikan sistem komputerisasi baru yang disebut "E-Loan" di semua kantor cabang. E-Loan merupakan sistem dengan platform website yang dirancang untuk mempercepat proses pengelolaan data sehingga mampu meningkatkan pengawasan atas pemberian kredit.